Jeritan Binjai – Pekerja Outsourcing Martabe menghadapi dampak langsung pascabencana yang melanda wilayah tambang. Banyak pekerja kehilangan tempat tinggal dan dapur rumah mereka rusak, sehingga aktivitas sehari-hari dan pekerjaan di tambang harus terhenti sementara. Kondisi ini menimbulkan tekanan ekonomi dan psikologis bagi para pekerja dan keluarga.

Manajemen tambang Martabe langsung melakukan penilaian dampak terhadap pekerja outsourcing. Mereka mencatat sejumlah pekerja mengalami kerusakan parah pada rumah dan fasilitas pendukung kehidupan, termasuk dapur dan kamar tidur. Pekerja yang terdampak saat ini membutuhkan bantuan logistik dan dukungan darurat agar dapat bertahan hingga kondisi pulih.
Baca Juga : Gubernur Sumut dukung program magang putra-putri Sumut ke Jepang
Pekerja outsourcing menceritakan bagaimana mereka harus menghentikan pekerjaan di tambang sementara waktu. Banyak dari mereka bergantung pada penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Situasi ini memaksa beberapa pekerja menunda pembayaran rumah kontrakan, cicilan, dan kebutuhan pokok lainnya. Dampak ini terasa semakin berat karena bencana terjadi di tengah tingginya tekanan ekonomi nasional.
Selain manajemen tambang, pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan ikut turun tangan untuk memberikan bantuan darurat. Bantuan mencakup kebutuhan pangan, obat-obatan, dan tempat tinggal sementara. Para pekerja juga menerima pendampingan psikologis agar dapat menghadapi trauma akibat kehilangan rumah dan fasilitas hidup.
Melalui Pekerja Outsourcing Martabe, terlihat bahwa sektor pertambangan perlu memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana. Langkah preventif seperti pelatihan tanggap darurat, sistem evakuasi, dan asuransi kerja sangat penting untuk melindungi tenaga kerja outsourcing. Upaya ini diharapkan dapat meminimalkan kerugian fisik dan finansial di masa depan.
Ke depan, manajemen tambang Martabe berkomitmen mendukung pekerja terdampak untuk memperbaiki rumah dan fasilitas mereka. Program bantuan ini diharapkan memulihkan kondisi keluarga pekerja sekaligus memastikan produktivitas tambang dapat kembali normal dengan aman. Situasi ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan terhadap pekerja outsourcing dalam menghadapi risiko bencana alam.





