Binjai – Pasokan Terhambat Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara, khususnya di Kota Binjai, mengakibatkan pasokan ikan ke pasar tradisional terhambat, sehingga harga ikan melonjak tajam.
Selain itu, banyak pedagang ikan yang terpaksa menutup kiosnya karena kesulitan dalam mendapatkan pasokan atau dampak langsung dari bencana banjir yang merendam jalanan dan lokasi usaha mereka.
Hal ini membuat harga berbagai jenis ikan di pasar tradisional mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir, mengganggu perekonomian warga yang bergantung pada bahan pangan tersebut.
Banjir yang terjadi sejak awal pekan ini menggenangi sebagian besar area Binjai, termasuk jalan-jalan utama yang menghubungkan Kota Binjai dengan daerah pemasok ikan.
Akibatnya, distribusi ikan yang biasa mengalir lancar dari pusat pengelolaan ikan dan sentra perikanan sekitar, seperti Tanjung Pura dan Medan, terhambat. Pedagang ikan di pasar tradisional Kota Binjai pun harus menghadapi dampak langsung dari gangguan pasokan ini.
Banjir Menghambat Pasokan Ikan ke Pasar Tradisional

Menurut keterangan dari Kepala Dinas Perikanan Kota Binjai, Rahmat Hidayat, hujan deras yang mengguyur daerah hilir di sepanjang sungai dan danau, serta curah hujan yang tinggi di hulu wilayah Binjai, menyebabkan sejumlah jalan utama tergenang air. Banjir ini mempengaruhi akses transportasi yang digunakan oleh para pedagang ikan untuk mengangkut hasil tangkapan dan pembelian ikan dari daerah pemasok.
“Banjir yang terjadi menghambat pasokan ikan dari daerah-daerah penghasil ikan seperti Tanjung Pura dan Medan. Jalan-jalan utama yang menghubungkan pasar tradisional dengan daerah pengiriman ikan terendam banjir, sehingga kendaraan pengangkut ikan kesulitan melewati jalur tersebut,” ujar Rahmat Hidayat.
Sebagian besar pedagang ikan di Binjai mengandalkan pasokan dari daerah tersebut, sehingga pasokan ikan ke pasar Binjai terhenti sementara.
Bahkan beberapa pasar ikan yang ada di Binjai mengalami kekosongan barang, atau jika ada, harga ikan jauh lebih tinggi dibandingkan biasanya. Pedagang pun terpaksa mencari alternatif pasokan ikan dari daerah lain yang jaraknya lebih jauh, namun biaya pengangkutan yang tinggi membuat harga jual ikan menjadi sangat mahal.
Kenaikan Harga Ikan di Pasar Tradisional
Kenaikan harga ikan di pasar tradisional Binjai sangat terasa bagi konsumen. Ikan yang biasa dijual dengan harga Rp 30.000 per kilogram, kini bisa mencapai Rp 50.000 per kilogram, bahkan lebih, tergantung jenis ikannya. Beberapa jenis ikan seperti ikan nila, ikan lele, dan ikan mas yang biasanya menjadi pilihan utama masyarakat kini sulit dijangkau oleh banyak pembeli karena harganya yang melonjak tajam.
Salah satu pedagang ikan di Pasar Binjai, Siti Mariah, mengungkapkan bahwa sejak terjadinya banjir, ia kesulitan mendapatkan pasokan ikan dengan harga yang wajar. “Ikan yang biasanya saya beli dengan harga Rp 30.000 per kilogram, sekarang bisa naik sampai Rp 50.000 per kilogram.
Harganya naik karena pasokan terbatas, dan saya harus beli ikan dari tempat yang lebih jauh, jadi biaya transportasinya pun lebih tinggi,” kata Siti, yang telah berjualan ikan di pasar tersebut selama lebih dari 10 tahun.
Akibatnya, pembeli ikan pun berkurang drastis. Banyak keluarga yang biasa membeli ikan sebagai lauk utama terpaksa mengurangi jumlah pembelian atau beralih ke jenis bahan pangan lain yang lebih terjangkau.
“Biasanya, ikan menjadi pilihan utama untuk makan keluarga. Tapi karena harganya naik drastis, saya lebih memilih membeli ayam atau tahu tempe. Saya hanya membeli ikan sedikit, karena memang tidak mampu dengan harga yang sekarang,” ujar Aisyah, salah satu pembeli di Pasar Binjai.
Banyak Pedagang Ikan Terpaksa Tutup
Tidak hanya mengganggu konsumen, pasokan yang terhambat juga membuat banyak pedagang ikan di Binjai terpaksa menutup kios mereka.
Beberapa pedagang yang biasanya mendapatkan pasokan ikan segar setiap hari, kini harus menghadapi kenyataan bahwa tidak ada ikan yang bisa dijual akibat banjir yang menghambat distribusi.
“Kalau pasokan ikan tidak ada, ya kami tidak bisa jual apa-apa. Akhirnya, terpaksa tutup kios sementara waktu. Saya juga sudah beberapa kali mencoba mencari pasokan dari daerah lain, tapi biaya transportasi sudah sangat tinggi,” kata Syafri, salah seorang pedagang ikan di Pasar Binjai.
Syafri menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir, pasokan ikan ke kiosnya hampir tidak ada sama sekali, dan ia hanya bisa menunggu sampai pasokan kembali lancar.
Fenomena ini juga dialami oleh pedagang ikan lainnya di Binjai. Beberapa di antara mereka bahkan terpaksa mencari pekerjaan lain sementara menunggu pasokan ikan kembali normal. Selain itu, beberapa pedagang yang tetap buka juga terpaksa menjual ikan dengan harga yang lebih tinggi, meskipun stok terbatas.
Dampak Banjir terhadap Perekonomian Lokal
Kondisi ini jelas berdampak pada perekonomian warga Binjai yang menggantungkan hidup pada sektor perdagangan ikan. Tidak hanya pedagang ikan, petani ikan dan nelayan yang biasanya memanen hasil tangkapan mereka juga merasakan dampaknya. Akibat banjir, banyak lokasi budidaya ikan terendam, dan ikan-ikan yang ada di kolam atau petak sawah pun banyak yang mati.
“Saya punya kolam ikan di belakang rumah. Tapi akibat banjir, kolam saya terendam air dan ikan-ikan saya banyak yang mati.
Ini menjadi kerugian besar bagi kami petani ikan, karena belum sempat dipanen, ikan sudah mati akibat banjir,” ujar Kamaruddin, petani ikan di Desa Binjai. Kamaruddin juga menambahkan bahwa ia terpaksa memperbaiki kolam-kolamnya dan berharap bisa memulai lagi budidaya ikan setelah air surut.
Secara keseluruhan, dampak dari pasokan ikan yang terhambat dan harga yang melonjak ini memengaruhi daya beli masyarakat, terutama keluarga-keluarga dengan pendapatan menengah ke bawah. Makanan yang terjangkau oleh sebagian besar masyarakat kini menjadi lebih sulit dijangkau.
Pemerintah dan Masyarakat Bekerja Sama untuk Memulihkan Kondisi
Pemerintah Kota Binjai melalui Dinas Perikanan dan BPBD telah turun tangan untuk menangani masalah pasokan ikan yang terganggu akibat banjir.
Mereka bekerja sama dengan pihak terkait untuk mendistribusikan bantuan kepada pedagang ikan dan masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, beberapa solusi darurat telah disiapkan untuk memastikan kebutuhan pangan warga tetap tercukupi.
“Pemerintah sudah berkoordinasi dengan beberapa pihak untuk mengurangi dampak dari kekurangan pasokan ikan ini. Kami sedang berupaya agar distribusi bahan pangan lain, seperti ayam dan daging, dapat diperbanyak untuk mengimbangi kenaikan harga ikan.
Kami juga memberikan bantuan kepada pedagang ikan yang terdampak untuk membantu mereka kembali beroperasi,” ujar Sekretaris Daerah Kota Binjai, Idris Sulaiman.
Namun, perbaikan pasokan ikan ke pasar tradisional masih memerlukan waktu, mengingat kondisi banjir yang masih menggenangi beberapa area penghubung Binjai dengan daerah pemasok ikan.
Perlu Langkah Mitigasi Jangka Panjang terhadap Bencana Alam
Banjir yang melanda Binjai ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur transportasi dan distribusi pangan harus diperkuat untuk menghindari gangguan pasokan yang dapat merugikan masyarakat, terutama di pasar-pasar tradisional.
Selain itu, perlu ada langkah mitigasi bencana yang lebih baik untuk mengantisipasi kerugian ekonomi akibat bencana alam seperti banjir, yang dapat merusak sistem distribusi pangan.
Untuk ke depannya, pemerintah setempat diharapkan dapat melakukan perbaikan infrastruktur dan memperkuat sistem penanggulangan bencana agar masyarakat tidak terjebak dalam kondisi serupa.
Dengan dukungan semua pihak, diharapkan kondisi pasokan pangan, khususnya ikan, dapat segera pulih dan harga kembali stabil.





